Baru-baru ini Mendikbud Indonesia, Muhadjir Efendy mulai menerapkan sistem Full Day School di sekolah-sekolah Jakarta. Setidaknya ada 500 sekolah yang telah menerapkan sistem Full Day School. 500 sekolah ini ada yang menerapkan karena permintaan pemerintah, ada juga yang sukarela menawarkan untuk bergabung. Nantinya apabila sistem ini dianggap efisien dan berpengaruh positif/membawa perubahan yang baik bagi anak maka sistem Full Day School ini akan diterapkan ke seluruh sekolah di Indonesia khususnya sekolah yang telah terakreditasi.
Setelah mendengar dan membaca berita dari banyak sumber sana-sini, saya jadi teringat pengalaman seorang teman lama saya yang mendapat beasiswa untuk sekolah di Korea Selatan. Saya ingat bagaimana dia begitu mengeluhnya ketika pulang ke Indonesia dan bercerita tentang sekolah disana. Dia bilang kalau sekolah di sana masuk pukul 8 pagi dan pulangnya bisa sampai jam 8 malam.bahkan lebih. Semua murid disana selalu berambisi untuk mengejar peringkat dan prestasi. Entah karena dorongan (atau mungkin paksaan hehe) orangtua mereka atau karena gengsi (disana murid dengan nilai rendah sering di bully).
Sekolah selama 12 jam bukan berarti selama 12 jam kita berada di dalam kelas dan bergulat dengan berbagai pelajaran. Tapi murid-murid korsel hanya belajar selama 2,5 jam - 4 jam saja di dalam kelas dengan interval waktu 2x60 menit, 1 x 70 menit (untuk mata pelajaran wajib : matematika, ipa, dll) dan 1 x 50 menit untuk mata pelajaran tertentu (itu untuk pelajar SMA). Selebihnya adalah waktu untuk mengembangkan karakter dan bakat-minat (ekstrakurikuler) seperti olahraga, musik, seni lukis, seni tari, dll. Biasanya waktu ekstrakurikuler ini berkisar kurang lebih 2-3 jam saja. Kemudian mereka masuk untuk kelas tambahan, kelas tambahan ini adalah kelas khusus dimana siswa boleh mengambil mata pelajaran favoritnya saja, mata pelajaran tambahan ini biasanya mengajarkan pelajaran diluar mata pelajaran wajib & umum atau materi khusus diluar kurikulum. Kelas ini berdurasi 2 x 50 menit. Kemudian mereka diperbolehkan untuk meninggalkan sekolah.Eits untuk meninggalkan sekolah ini bukan berarti mereka langsung pulang lho, mereka biasanya pergi ketempat bimbingan belajar untuk mendapatkan pelajran tambahan/les. Bagi mereka yang mampu biasanya akan mendatangkan guru les privat/ bagi mereka yang tidak mau mengeluarkan kocek untuk bimbel biasanya mereka ikut rombongan di sekolah, ini tidak terlalu mahal.
Selama di sekolah siswa diberi kesempatan kurang lebih 1 hingga 1,5 jam buat istirahat. Biasanya waktu jam istirahat siang mereka diberi makan siang gratis dan boleh bermain sesukanya (asal masih dalam batas peraturan). Pada jam istirahat pertama/kedua (diluar istirahat makan siang) sekolah Korsel menyediakan radio sekolah dimana mereka bisa mendengarkan lagu, mengirim salam, dsb.
Di Indonesia sistem Full Day School dianggap tidak normal karena biasanya rata-rata murid Indonesia belajar selama 6-8jam jika lebih mungkin itu ekstrakurikuler. Tak heran bila begitu Sistem Full Day School mulai diterapkan menuai banyak protes dari orangtua dan murid bahkan guru. Alasan yang sering dilontarkan adalah "anak/guru juga perlu memiliki waktu dengan keluarga" atau "mereka juga memiliki hak untuk bermain di luar. Namun kembali saya flashback. Banyak lho anak broken home yang mereka lebih nyaman di sekolah karena bisa ketemu teman-temannya ketimbang harus berada di rumah. Atau mereka yang memiliki alas bahwa "anak juga memiliki hak untuk bermain" setidaknya bermain dapat dinikmati full ketika hari libur, toh mereka juga dapat bermain di sekolah, atau dapat menemukan banyak teman ketika memgikuti ekstrakurikuler, lomba, dsb.
Sebenarnya sistem Full Day School ini telah diterapkan bukan hanya di Korsel aja tapi juga Jepang, Swiss, beberapa sekolah elit di Amerika dan Negara-negara eropa lainnya. Nah lho, kalau siswa di negara-negara maju aja udah berhasil menerapkan sistem Full Day School, tidak ada salahnya Indonesia untuk mencoba juga. Full Day School bukanlah Full Day Study (melulu di dalam kelas) tapi Full Day Learn (memberikan pelajaran dengan berbagai hal/bentuk).
Memang sih belajar tidak hanya disekolah atau melulu tentang nilai, tapi pada dasarnya ilmu pengetahuan dan kehidupan adalah satu kesatuan, bukankah hidup itu adalah suatu pembelajaran.. :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar