Welcome to My Blog

Kamis, 09 Juni 2016

Tuhan Belum Selesai dengan Saya

Seandainya jika Anda mengenal seorang wanita yang sedang hamil, yang telah mempunyai 8 anak, tiga diantaranya tuli, dua buta, satu mengalami gangguan mental dan wanita itu sendiri mengidap sipilis, apakah Anda akan menyarankan untuk menggugurkan kandungannya?

Jika Anda menjawab ya, maka Anda baru saja membunuh satu komponis masyhur dunia. Karena anak yang dikandung oleh sang ibu tersebut adalah Ludwig Van Beethoven.

Nah, sekarang seandainya Anda diberi kesempatan untuk memilih seorang pemimpin dunia dan pilihan  Anda ini nantinya akan  berpengaruh besar terhadap dunia. Maka pilihan mana yang Anda pilih?
Berikut adalah fakta mengenai ketiga calon tersebut:

Calon A: dihubung-hubungkan dengan politisi jahat dan sering berkonsultasi dengan astrologis, punya dua istri muda, dia juga seorang perokok berat dan minum 8-10 botol martini setiap harinya.

Calon B: dipecat dua kali dari kantor, selalu bangun sore hari, pernah menggunakan narkoba waktu kuliah dan minum wiski tiap sore.

Calon C: dianggap pahlawan perang, vegetarian, tidak merokok, hanya sesekali minum bir, tidak pernah berselingkuh di luar perkawinannya.

Anda mungkin tidak akan menduga siapa sebenarnya calon-calon ini.

Calon A adalah Franklin D. Roosevelt

Calon B adalah Winston Churchill

Calon C adalah Adolf Hitler

Sekali lagi sejarah mengajarkan untuk tidak menilai orang dari penampilan.

Kita tidak selalu tahu apa yang sedang dan masih mungkin terjadi di dalam hati seseorang. Di sanalah (di dalam hati), perjalanan yang sesungguhnya sedang terjadi.

Selama kita belum bisa melihat ke dalam hati seseorang dan belum bisa mengikuti proses-proses yang masih berlangsung di dalamnya (dan memang tidak akan pernah bisa), maka sebenarnya selama itulah kita tidak mempunyai hak apapun untuk menghakimi sesama kita.

Maka disini saya mengajak Anda semua untuk memulai pergaulan dengan tidak mengadili sesama kita. Misalnya saja denga menyebar gosip atau berbicara tentang mereka yang sebenarnya hanyalah rekayasa kita, atau meremehkan mereka yang terlihat tidak sebanding dengan kita. Mari kita budayakan menghargai oranglain.

Laurentina Larasati

Tidak ada komentar:

Posting Komentar